Kamis, 10 November 2011

Prof Bambang Hidayat


Prof. Dr. Bambang Hidayat (lahir di Kudus, 18 September 1934; umur 77 tahun) adalah seorang astronom Indonesia. Ia adalah putra tertua dari 8 bersaudara. Ayahnya, Soedirgo Dhonomidjojo, adalah seorang polisi yang kemudian meniti karier sebagai pamong praja. Bambang Hidayat menikah dengan Estiti Harti Sujono. Prof. Estiti Harti Sujono Ph.D. lebih dikenal sebagai Estiti Bambang Hidayat adalah seorang biolog di Departemen Biologi ITB. Pasangan ini dikaruniai dua putra. Ibu Estiti wafat pada tahun 1995 karena penyakit kanker.

BIOGRAFI

Pendidikan menengah dilaluinya di SMP II Semarang; dan SMA Bag. B Semarang. Bambang masuk FMIPA (waktu itu masih merupakan bagian dari UI) di Bandung tahun 1953. Pada tahun 1954 Bambang diangkat menjadi asisten pengamatan bintang ganda visual menggunakan teropong Zeiss Besar, di Observatorium Bosscha, Lembang. Pekerjaan di Lembang tahun 1954 diawali dengan mengamati oposisi planet Mars yang mendekati Bumi kala itu.

Akhir tahun 1960 dia tamat dari Institut Teknologi Bandung dalam mata pelajaran Astronomi, Fisika dan Matematika. Salah satu makalah yang ditulisnya untuk meraih gelar doktorandus adalah tentang survey bintang muda di Rasi Ophiuchus. Skripsi tersebut terbit sebagai Contribution from the Bosscha Observatory pada tahun 1961.[1]

Pada tahun 60-an, masih sebagai asisten, Bambang memperoleh kesempatan ikut memasang teropong jenis mutakhir (pada saat itu) di Lembang, yakni teropong tipe Schmidt (kemudian dinamai teropong Schmidt Bimasakti). Hal ini yang kemudian membuatnya menjatuhkan pilihan pada bidang studi “Struktur Galaktika”.

Pada 1961, Bambang mendapat kesempatan untuk studi lanjut. Melalui hibah (grant) dari USAID (United States of America Agency for International Developments), Bambang memulai studi pascasarjananya di Case Institute of Technology, sekarang dikenal sebagai Case Western Reserve University, di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat. Menurut astronom Victor M. Blanco dalam autobiografinya, dana untuk membiayai Bambang berasal dari sisa dana UNESCO yang dialokasikan untuk menggaji Blanco selama proses pemasangan Teleskop Bima Sakti[2].

Pekerjaannya dalam telaah struktur galaktika[3] (sebagai disertasi Ph.D. pada 1965) dilaporkan kepada International Astronomical Union (tahun 1967) oleh Prof. Sidney W. McCuskey. Hasil penelitian Struktur Galaksi yang lain menghasilkan distribusi bintang raksasa kelas M bersama Prof. Victor M. Blanco, terbit pada tahun 1968[4]. Hasil itu diulas oleh Comm. 33 IAU dan kemudian dicuplik sebagai teks oleh Prof. Mavridis.

Pada tahun 1968, Bambang diberi kehormatan untuk dapat memimpin Observatorium Bosscha dan Departemen Astronomi ITB, menggantikan Prof. Dr. The Pik Sin yang pindah ke Universiteit van Amsterdam. Pada akhir 1976, Bambang diangkat menjadi guru besar penuh di ITB dalam bidang astronomi. Jabatan ketua departemen astronomi dipegang hingga tahun 1978 dan direktur observatorium dipegang hingga tahun 1999. Pada September 2004, pada usia ke-70, Bambang resmi pensiun dari ITB dan menjadi Guru Besar Emeritus.

KIPRAH

  • Awal 1970an mendapat penugasan dari International Astronomical Union sebagai anggota komisi inti Astronomical Photography dan anggota 3 komisi lainnya yaitu Double Star, Interstellar Matter dan Education in Astronomy.
  • Dari telaah bintang ganda, dipercaya oleh IAU menjdi SOC dalam pertemuan Physical Property of Binary Star di Lembang, tahun 1983.
  • Membidani beberapa pertemuan astronomi di Indonesia :
    • IAU Symposium 143 tentang bintang Wolf-Rayet di Bali tahun 1990.[5]
    • IAU Colloqium 148 dengan topik Future Utilization of Schmidt Telescope di Bandung tahun 1994.[6]
  • Tahun 1994 hingga 2000, Bambang Hidayat dipilih menjadi salah satu dari enam Vice President IAU.
  • Fellow of the Islamic Academy of Science, Amman, Yordania, tahun 1992.
  • Anggota Royal Commission of the Al-al Bait University atas penunjukan keluarga Hasemit, Yordania.
  • Anggota kehormatan Indian Institut of Science.
  • Fellow of the Royal Astronomical Society of England, Inggris.
  • Fellow of the American Association for the Advancement of Science.


Kiprah Nasional


Penghargaan

  • Bintang jasa utama Republik Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan dalam tahun 1995
  • Penghargaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai penulis civic terbaik bersama Dr. Winardi Sutantyo tahun 1991.
  • Habibie Award tahun 2003

Kiprah di bidang lainnya

Di samping pekerjaan ilmiahnya, Bambang juga dikenal publik dari tulisan-tulisan ilmiah populernya di berbagai media massa. Masa pasca 1980an, Bambang mulai memperhatikan dan menulis dalam sejarah astronomi di Indonesia, pendidikan, bahkan sejarah nasional. Sampai kini Bambang masih dikenal sebagai salah seorang tokoh pemerhati kawasan Bandung Utara. Bambang juga berminat pada sejarah astronomi Indonesia, yang dituangkan dalam dua publikasi yaitu "Indo-Malay Astronomy"[7] dan "Under a Tropical Sky: A History of Astronomy in Indonesia"[8].

Beberapa Publikasi Bambang Hidayat

  1. ^ Hidajat, Bambang (1961). "Faint Halpha-emission star near rho Ophiuchi and sigma Scorpii". Contr. from the Bosscha Observ. Lembang 11: 1-7.
  2. ^ Blanco, Victor M. (2001). "Telescopes, Red Stars, and Chilean Skies". Annual Review of Astronomy and Astrophysics 39: 1-18.
  3. ^ Hidajat, Bambang (1965). "Distribution of Giant M Stars in Three Galactic Regions". PhD Thesis. Case Western Reserve University.
  4. ^ Hidajat, Bambang (1968). "Distribution of Giant M Stars in the Galactic Disk" (PDF). Astronomical Journal 73: 712-716.
  5. ^ van der Hucht, Karel (14 Oktober 1991). Wolf-Rayet stars and interrelations with other massive stars in galaxies: proceedings of the 143rd Symposium of the International Astronomical Union held in Sanur, Bali, Indonesia, June 18-22, 1990. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
  6. ^ Chapman, Jessica (14 Oktober 1995). The future utilisation of Schmidt telescopes. Astronomical Society of the Pacific Conference Series, Proceedings of IAU Colloquium 148 held 7-11 March 1994 in Bandung, Indonesia. San Francisco, CA: Astronomical Society of the Pacific (ASP).
  7. ^ Hidayat, Bambang (2000), "Indo-Malay Astronomy", di dalam Selin, Helaine (ed.), Astronomy Across Cultures: The History of Non-Western Astronomy, United Kingdom: Kluwer Academic Publisher, hlm. 371-384
  8. ^ Hidayat, Bambang (2000), "Under a tropical sky: a history of astronomy in Indonesia", Journal of Astronomical History and Heritage 3 (1): 45-58, ISSN 1440-2807
http://id.wikipedia.org/wiki/Bambang_Hidayat

================================

Prof. Dr. Bambang Hidayat : Sosok Intelektual Yang Setia Berkarya


Berbicara tentang astronomi di Indonesia, kita tak akan bisa lepas dari sosok yang satu ini. Ia adalah Bambang Hidayat, astronom generasi awal Indonesia yang telah mendedikasikan hidupnya mengembangkan astronomi di Indonesia.
ula-mula, ia mendapat gemblengan dari sepasang astronom Belanda, suami-istri van Albada di Observatorium Bosscha. Salah seorang rekannya kala itu adalah almarhum Frater Drost, tokoh pendidikan yang dikenal dengan pandangan humanisnya. Pada tahun kedua kuliah, ia dipercaya menjadi asisten pengamatan bintang ganda dengan teropong Zeiss. Berturut-turut diselesaikannya tingkat sarjana pada tahun 1960, mendapat gelar doktor lima tahun kemudian dari Case Institut of Technology, AS, dengan bimbingan Prof. Sydney McCusky.

Pada usia yang relatif muda, Bambang dikukuhkan sebagai guru besar dalam usia 42 tahun. Jabatan sebagai kepala Observatorium Bosscha ia pegang sejak tahun 1968-1999. Pada tahun 1994, di den Haag, Bambang Hidayat terpilih menjadi wakil presiden IAU, satu-satunya organisasi astronomi internasional, selama kurun waktu 6 tahun.

Perjalanan astronomi Indonesia telah berumur lebih dari sepuluh abad. Pascaera astronom Belanda -demikian juga dengan ilmuwan-ilmuwan lain di ITB- terjadi alih generasi kepada angkatan selanjutnya, para pionir keilmuan bumiputra. Setelah Prof. The Pik Sin meninggalkan Indonesia, Bambang Hidayat memegang tongkat estafet selanjutnya, yaitu mengepalai Observatorium yang sangat penting, karena Bosscha merupakan satu di antara sedikit observatorium di bumi belahan selatan. Riset tentang struktur galaksi dan bintang-bintang muda dalam piringan galaksi Bima Sakti merupakan salah satu karya ilmiahnya yang penting.

Pada masa kepemimpinannyalah, di Observatorium Bosscha “disemai” para calon astronom yang kini sudah banyak berkiprah dalam berbagai forum ilmiah internasional. Iklim penelitianlah yang ia utamakan. Termasuk pula melibatkan pengertian para karyawan yang bertugas jaga malam. Jika malam cerah, Pak Jaga akan membangunkan astronom untuk melakukan pengamatan. Dengan sendirinya, lampu-lampu seluruh kompleks observatorium akan dimatikan.

Lahir di Kudus, 18 September 1934, pria yang memiliki nama kecil Puk ini mendapat “wangsit” dari -yang ia sebut sebagai nenek bijak pemberi arah- Roestami. Sang Nenek, yang buta huruf latin tapi mahir membaca dan menulis huruf Arab, menyarankan “pilihlah keilmuan dimana kelak kau merasa akan menyumbangkan pikiranmu”. Nasihat itu menjadi pendorong Bambang kala itu untuk memilih Fakultas Ilmu Pasti dan Alam UI (di Bandung) tahun 1953 selepas lulus dari SMA bagian B di Semarang.

Watak seorang ilmuwan ia dapatkan juga dari sang Kakek. Bambang masih mengingat dengan jelas penampakan komet, Desember 1948. Tatkala masyarakat desa kecil Kradenan (Purwodadi) ramai membicarakan komet sebagai pertanda rahasia adanya wabah, sang kakek membisikinya “ojo percoyo gugon tuhon” (jangan percaya takhayul). Walaupun dua minggu kemudian tentara Belanda menyerang Yogyakarta (18 Desember 1948), sang kakek tetap menyatakan ojo percoyo gugon tuhon, dan belajarlah untuk menerangkan hubungan sebab akibat, seperti halnya penampakan komet. Selain itu, ia juga mendapat inspirasi dari bacaan di “Perpustakaan Rakyat”.

Bambang muda melihat betapa indahnya ilmu pengetahuan alam yang menjanjikan premis menuju “unknown” untuk dapat diungkap, asal dibarengi kejelian indra dan sensitivitas pikiran. Majalah “Ilmu Pengetahuan Alam” membuatnya menciutkan pilihan karena di situ disebutkan adanya pendidikan akademik Ilmu Bintang di Bandung. Tiga buku lain memantapkan pilihannya yaitu; “Tentang Ilmu Bintang”, buku berbahasa Jawa terbitan Balai Pustaka sebelum Perang Dunia II, “Pendidikan di Denmark” karya pedagog Belanda Jan Lighthart, diterjemahkan oleh St. Iskandar, serta buku “Sterrenkunde en Mensheid” oleh Minnaert (1952). Ia juga terkesan dengan pengalamannya di kepanduan, ketika mentornya Pak Abusono mengatakan tentang selendang Bima Sakti yang mengelus “Wulanjar Ngirim” (Rasi Bintang Centaurus), perawan yang mengirim makanan untuk ayahnya di “Gubug penceng” (Rasi Bintang Salib Selatan atau Crux).

Pilihannya dalam astronomi memang mantap. Meski bukan berarti tanpa hambatan. Dalam orasi ilmiahnya pada acara “Purna Tugas & 70 tahun Professor Bambang Hidayat” November 2004 di Aula Barat ITB, ia menyebutkan dorongan dari (alm) istrinya, Estiti yang juga guru besar Biologi ITB, membuatnya bertahan untuk bekerja di astronomi, di Indonesia, dalam keadaan sukar. “Pekerjaan belum selesai,” demikian ujar sang istri pada tahun 1974. Dedikasi dan karya Bambang bertahun-tahun kemudian memperkokoh fondasi astronomi Indonesia yang dilanjutkan oleh para astronom generasi setelahnya.

Sebagai pendidik, ilmuwan, dan anggota masyarakat, Bambang telah mengabdikan dirinya dalam sebuah periode waktu yang merentang panjang. Untuk kiprahnya itu, berbagai penghargaan telah ia terima. Tahun 2003, ia mendapat the Habibie Award untuk kategori sains dasar. Penghargaan dari masyarakat ilmiah internasional yaitu sebagai anggota kehormatan American Association for the Advancement of Science sejak tahun 2000, dan juga penghargaan dari The Royal Society Astronomy of England.

Kini, kakek tiga cucu ini dikenal sebagai sosok intelektual yang komplet. Kecintaannya pada sejarah, termasuk sejarah sains, tersebar dalam berbagai tulisan di media massa, sebagian telah dibukukan dalam “Mozaik Pemikiran : Sejarah dan Sains Untuk Masa Depan” (2004). Ia juga menjadi pelopor penulisan astronomi populer lewat majalah Siasat di tahun-tahun awal kiprahnya sebagai astronom.

Budaya menulis itu masih ia jaga sampai sekarang. Bahkan merentang luas hingga persoalan sosial budaya, tidak terbatas pada keastronomian. Di samping itu, aktivitas dalam komunitas juga dilakoninya. Ia juga tercatat sebagai salah satu pendiri Bandung Heritage, sebuah organisasi nonprofit yang peduli dengan pelestarian lingkungan, arsitektur, dan tradisi kota Bandung. Selain itu, ia juga merupakan anggota “boards of experts” majalah National Geographic Indonesia.

Ditemani koleksi buku-bukunya, Bambang Hidayat tidak pernah berhenti menggali semangat keilmuan dan sekitarnya, dan ia telah membuktikan lewat berbagai karyanya yang akan berguna abadi untuk generasi penerus.

dikompilasi dari tulisan penulis di Majalah Centaurus edisi perdana tahun 2005

http://langitselatan.com/2008/10/07/prof-dr-bambang-hidayat-sosok-intelektual-yang-setia-berkarya/


==================

Prof. Bambang Hidayat : Baru Menyalakan Sebatang Lilin
Rameli Agam dan Galura

PILIHLAH bidang ilmu di mana kelak engkau dapat ikut menyumbang.

KALIMAT penuh makna itu, meluncur dari sang nenek, Roostami, pada tahun 1953. Dari wanita yang buta huruf Latin, tetapi mahir menulis dan membaca Arab inilah, diperolehnya wawasan hidup dan siap menjadi penunjuk jalan spiritual serta mental. Demikian pula dukungan dari sang ayah yang selalu mendorong anaknya untuk memperoleh ilmu, karena isinya yang kekal.

Itulah penggalan pengalaman yang selalu diingat astronom terkenal, Prof. Bambang Hidayat. Saat ditemui di lingkungan kompleks Observatorium Bosscha, Lembang. Bambang Hidayat mengungkapkan, ucapan dari neneknya dan dorongan dari orang tuanya menjadi pemicu semangat saat dia memasuki Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (masih UI) di Bandung, pada tahun 1953. Sebelumnya, dia menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMP II dan SMA Bagian B di Semarang, serta selama di SMA dia juga aktif dalam kegiatan kepanduan.

Pada tahun 1954 merupakan momen yang sangat penting dan membanggakan dalam kiprahnya menggeluti astronomi. Saat itulah, Bambang Hidayat diangkat menjadi asisten untuk mengamati Bintang Kembar dengan teropong Zeiss. Kegiatannya di Observatorium Bosscha, Lembang diawali dengan mengamati oposisi planet Mars yang mendekati bumi kala itu.

Akhir tahun 1960, Bambang menamatkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam mata pelajaran Astronomi, Fisika dan Matematika. Salah satu paper untuk meraih gelar "doktorandus" adalah tentang Survei "Bintang Muda" di Rasi Ophiuchus. Skripsinya terbit tahun 1961 sebagai "contribution from The Bosscha Observatory". Setelah itu lahir beberapa paper yang berkaitan dengan survei "Bintang Muda" di langit sebelah Selatan.

Dalam kehidupannya sebagai astronom, pria kelahiran Kudus, 18 September 1934 ini, kerap mempergunakan teropong Zeiss ganda untuk penelitian Bintang Ganda. Juga mempergunakan teropong tipe Schmidt dalam melakukan penelitian Struktur Galaktika. Telaahnya mengenai Struktur Galaktika (sebagai disertasi Ph.D. tahun 1965) dilaporkan kepada International Astronomical Union (IAU) tahun 1967 oleh Prof. S.W. McCuskey. Hasil penelitian Struktur Galaktika lainnya yang menghasilkan distribusi bintang "raksasa" yang dingin bersama Prof. Blanco, terbit tahun 1968 dan diulas Comm. 33 IAU serta dicuplik sebagai teks oleh Prof. Mavridis.

Kiprah internasional

Sejak tahun 1968 hingga 1999, Bambang Hidayat menjabat sebagai Direktur Observatorium Bosscha. Kemudian saat usianya menginjak 42 tahun, dia pun diangkat menjadi Guru Besar penuh di ITB. Awal tahun 1970-an mulai melangkah memasuki pergaulan ilmiah internasional dan duduk sebagai komisi inti Astronomical Photography. Bersama Dr. van der Hucht melakukan penelitian "Bintang Muda" yang panas. Salah satu hasilnya di tahun 1981 tentang distribusi bintang itu, diulas oleh Majalah Prancis "Recherche". Dari telaah bintang kembar, dia dipercaya IAU sebagai Scientific Organizing Committee pada pertemuan Physical Property of Binary Stars. Pada tahun 1994 di Den Haag, Bambang Hidayat diangkat menjadi wakil presiden IAU, satu-satunya organisasi astronomi internasional, selama enam tahun.

Menyinggung tentang proses pendidikan, Bambang Hidayat menyatakan, hendaknya dipandang sebagai upaya mengangkat anak didik untuk diberdayakan kemampuannya mengembangkan nalar, dan mendorong mereka untuk menjadi pemerhati yang berkeinginan tahu. Keingintahuan yang kritis ini harus sudah dikembangkan sejak mereka duduk di tingkat sekunder, bahkan mulai dari sekolah dasar. "Pendidikan yang baik merupakan prasyarat bagi berkembangnya insan sadar-pengetahuan", ujar lelaki berpenampilan sederhana ini.

Tatkala kita bergerak di dalam abad ke 21 ini, kita harus selalu memikirkan secara terintegrasi model evolusi pendidikan dan variabel tatanan kehidupan di masa mendatang. Hal ini tentunya tidak mudah, karena adanya perubahan yang cepat menjalar dari pusat pengubah ke tangan penadah perubahan itu. Walaupun demikian, kita tidak boleh melupakan tonggak sejarah etika abad 20, yang bagaimanapun juga telah menghasilkan banyak pemikir dan pendorong perbatasan ilmu.

Kajian adalah kompas pengembaraan kita ke masa depan. "Dari situ kita dapat mengetahui relung dan bingkai yang menuntun simpul kemanusiaan berevolusi serta berinteraksi sampai kepada status nanotechnology dewasa ini," kata Bambang.

Guna menjamin terselenggara dan tercapainya keinginan bangsa untuk mendidik putra-putrinya serta menghadirkan sains ke dalam masyarakat, menurutnya, perlu adanya beberapa kategorial yang meliputi wadah institusional, teknologi dan metodologi, pengajaran berbasis masalah, pengajaran berbasis projek, evaluasi dan penilaian. Kemudian keterampilan kuantitatif, keterampilan komunikasi, pemikiran ordo-tinggi, bekerja sama (kolaborasi) serta pendekatan interdisipliner.

Dan dalam proses pendidikan ini yang harus diingat adalah kita tidak hanya mendidik calon pemenang Nobel. Tetapi kita pumpunkan perhatian kita kepada kelompok "average". Walaupun begitu upaya kita tidak boleh membosankan, sehingga mereka yang berada pada ekor kiri kurva distribusi kepandaian lari meninggalkan pengajaran berbasis ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, umum atau warga awam harus dibekali dengan kaidah dasar pengetahuan.

Karenanya tanggung jawab ilmuwan sangatlah besar untuk menghadirkan pengetahuannya, agar masyarakat mempunyai kesadaran ilmiah. "Kesadaran ini akan membuat mereka berpikir tidak hanya atas dasar suka atau tidak suka, melainkan dilandasi pengertian yang terhitung," kata bapak dari dua anak dan kakek dari dua cucu ini.

Dalam mengembangkan kebijakan sains matematika dan ilmu pengetahuan alam, dirasakan perlu menekuni adagium, dunia (materi) selalu harus dapat dimengerti dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Pada pengembangan adagium itu, sudah semestinya disadari, tantangan ilmiah selalu berubah, dalam arti mendekati kesempurnaan. Di sisi lain, kita pun menyadari pula sains tidaklah selalu dapat segera menjawab semua pertanyaan. Penyediaan keterangan kualitatif dan kuantitatif sebagai suatu fenomena yang harus seiring.

Para ilmuwan perlu menyediakan diri dengan tanggung jawab untuk menjadi "kotak pos" menjawab pertanyaan publiknya. Hal ini agar dapat membantu masyarakat dan pengambil keputusan melaksanakan sains. "Dengan demikian publik dan politisi pengambil keputusan dapat menentukan pilihan serasional mungkin dan tidak berdasarkan atas 'aku-suka'," tuturnya.

Menurut Bambang Hidayat, yang di usianya menginjak 70 tahun masih terlihat enerjik ini, peluang untuk mempelajari space science sangat besar sekali. Dengan melakukan penelitian atau studi banding dengan planet lain akan timbul pertanyaan, what next? Misi ke planet lain atau mengadakan penelitian keadaan bumi dari angkasa dengan didukung teknologi, akan menghasilkan suatu sumbangan pemikiran bagi kemajuan dan kesejahteraan bumi.

Lalu, sulitkah belajar astronomi itu? Bambang Hidayat menjelaskan, tidaklah sulit untuk belajar astronomi. Tergantung kepada kesenangan dan kecintaan terhadap bidang ilmu yang kita geluti, selain memerlukan faktor-faktor lainnya. Banyak hal yang dapat dieksplorasi dan diteliti mengenai keruangangkasaan ini. "Kajian dan penelitian itu tentunya akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan kita dan hasilnya akan membawa dampak kepada kemajuan dan kesejahteraan," ujar Bambang yang juga menyenangi sejarah ini.

Tentang prospek astronomi di masa mendatang pun, astronom peraih penghargaan dari The Royal Astronomical Society of England ini menyatakan keoptimisannya. Dengan sumber daya manusia yang ada di Indonesia dewasa ini, Bambang Hidayat berharap agar para astronom selalu terus bersinergi. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan fasilitas-fasilitas yang ada. Fasilitas ini hendaknya didukung oleh lingkungan fisik yang baik. "Sebagai contoh, sebuah observatorium memerlukan lingkungan yang gelap dan bersih dari debu. Oleh sebab itu, kegiatan pembangunan fisik di sekitar observatorium haruslah beretika lingkungan," katanya.

Tentang seringnya terjadi perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan, permasalahan bukanlah terletak pada metodologinya, melainkan pada interpretasi tekstual. "Dengan luas wilayah Indonesia yang terbentang dari Timur ke Barat, perbedaan interpretasi tekstual ini kerap terjadi, meskipun hal itu sebenarnya bisa dihindari," kata Bambang Hidayat.

Selama kiprahnya menggeluti dunia astronomi, Bambang Hidayat menuturkan, apa yang telah dilakukannya sejauh ini hanyalah suatu upaya menyalakan cahaya di malam gelap untuk generasi berikutnya. "Ibaratnya, barangkali saya baru menyalakan satu lilin saja," ungkapnya.(Rameli Agam/"Galura")***

Sumber : Pikiran Rakyat (7 Oktober 2004)

http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1101735231

=============================






hidayat.gif (11308 bytes)


Prof. Bambang Hidayat

Prof. Bambang Hidayat was born on September 18, 1934 in Kundus, Central Java, Indonesia. He has 2 children. His wife (passed away in 1995) Estiti, was a professor of Biology.

He obtained his PhD from Case Institute of Technology in Cleveland, Ohio in 1965 in the field of Astrophysics, where he worked with Professors McCuskey and Blanco.

Prof. Hidayat became a Full Professor in 1976, Associate Professor in 1974 and Assistant Professor in 1968. In 1968, he was appointed Director of the Bosscha Observatory, a post he held for over 15 years.

Dr Hidayat has more than 40 scientific papers to his credit as well as a number of Astronomy textbooks.

He is the Chairman of the Indonesian-Dutch Astronomy Programme from 1982 until the present time, Chairman of the Indonesian-Japan Astronomy Programme from 1980 until 1994 and the Vice-President of the International Astronomical Union from 1994-2000.

Prof. Hidayat is a member of the following bodies:

    1. International Astronomical Union;
    2. American Astronomical Society;
    3. Royal Astronomical Society;
    4. Indonesian Astronomical Society (Founder, 1978);
    5. Indonesian National Academy of Sciences (1991);
    6. Indonesian Physics Society (Co-founder);

Prof. Hidayat is an elected Fellow of the Islamic World Academy of Sciences, Amman, Jordan (1992), and member of the Royal Commission of the Al Albait University, Mafraq, Jordan (1993).

http://www.iasworld.org/html/profiles/47.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar