Rabu, 22 September 2010

Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri

"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai.”

”Kepada Professor dipersilahkan...", suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...

”Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.”

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya. Tiga puluh tahun yang lalu ...Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah. "Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?

Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri." Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil,rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami. "Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!" "Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah. Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT. Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya." Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."

Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita: Sambil menatap kaki langit Kukatakan kepadanya Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba Bukan karna ketiadaan kata-kata Tapi karena kupu-kupu kelelahan Akan tidur di atas bibir kita Besok, oh cintaku... besok Kita akan bangun pagi sekali Dengan para pelaut dan perahu layar mereka Dan akan terbang bersama angin Seperti burung-burung Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama! "Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita." Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut. Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan. Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini. "Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara. Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak: "Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."

Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

----------------------------------------

Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri

"Now it's time we all listened to advice for the bride and groom's wedding which will be delivered by Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri. He is the Chairman of Cairo and Dikrektur Medical Association Qashrul Aini Hospital, a leading expert in the Middle East nerve, which professor was none other than the bride. "



"To Professor welcome ...", Urs walimatul announcer voice that echoed throughout the room nan lavish wedding reception at the Ramses Hilton Hotel located on the banks of the Nile, Cairo.



The entire audience waited with curiosity, what would be conveyed experts trained neural London. Their hearts anticipating there could be new surprises about the marriage relationship with the health of the nervous smile and a professor who frequently appeared on television.



A moment later, a middle-aged man with white hair stepped to the podium. Robust pace. Countenance on his face exudes authority. The little bald head, assuring that he was a research scientist weighs. His eyes were a sharp and strong, suggesting that a private firm. Once on the podium, video cameras and floodlights shoot directly at him. A moment before speaking, as usual, he was touching up the glasses, and then ...



"Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, Amma ba'du. Previously, I beg Sorry, I can not normally advise the scholars, the mubhaligh and the religious teacher. But the opportunity this time let me tell you ... I want to convey story, this time not merely fictitious and not an ordinary story. But a life experience is priceless, which I have ketchup with my whole body and soul. I hope both the bridegroom and are glorified God all the attendees can take the wisdom and lessons they contain. Take pearls and throw mud. "



I hope this true story I could soften hardened hearts, describing the nuances of love in peace, and bring all of my heart that loyalty to him. Thirty years ago ... I was a young man, living in the middle of middle to high noble family. My father is a senior officer, a descendant of "Pasha" respectable in this country. My mother is no less respectable, a leading lady from an aristocratic family in Ma'adi, he was highly educated, Sorbonne-trained economist who hold important positions and highly respected among the political elite in this country.



My elder son, my two sisters, men and women. We live in an atmosphere of an aristocrat with a separate living arrangement. Life's journey full governed by the laws and norms of aristocrats. Large family we know only the association with the aristocrats or the equivalent of the high class!



Somehow I felt dissatisfied with how to live like this. I feel terkukung and fettered by social strata-dewakan didewa family. I do not feel so alive I was looking for. I feel more alive just when hanging out with friends of lower ranks who faced life with great obstacles and struggles. This turned out to make my family upset, they thought I was clumsy and unable to maintain social status. My interactions with people who are always wet with sweat in the search for abdominal pengganjal considered shameful family. However I do not care.



Because the father obtained a very large inheritance from my grandfather yan, and the mother can develop it with a double, then we are living in luxury with good taste. When summer came, we used to vacation abroad, to Paris, Rome, Sydney or any other world cities. When on holiday at home to Alexandria for example, then the choice of our family is in San Stefano hotel or luxury hotel in an adjacent Montaza court of King Faruq.



Once in medical school, I had bought a luxury car. Many times I asked the father to replace it with a normal car, to be more comfortable hanging out with my friends and professors. But he flatly refused. "It was a luxury car that you will respect anyone" exclaimed the father.



I'm forced to use the car even though in my heart all-out denied the father's opinion of the materialist. And to be more comfortable in myself, my car was parked some distance away from where the college.



When I fell in love with a college friend. A girl full of charm physically and spiritually. I am interested in simplicity, simplicity, and glory ahlaknya. From the shade of my face caught in the depths of her heart saved incomparable fidelity and tenderness. Very menajubkan beauty and intelligence. He was civilized and accomplished girl who, like me.



Pots were intercepted. He was also loved me. I felt he had found the right partner. We promised to put this love in a sacred bond blessed God, which is the bond of marriage. Finally we both graduated with highest honors in the faculty. Then came the moment for both of us realize a dream come true. We want to unite the love full of happiness in a straight path.



I open my desire to apply and to marry a girl in love to the family idol. I invited him to visit home. Father, mother and my brothers all amazed with the beauty, gentleness, and intelligence. My mother praised taste in selecting the colors of clothing and speech language halus.Usai that visit, my father asked about his father's work. As soon as I can tell, and instantly burst into a storm of anger and slammed the glass of a father who was nearby. Even he mengultimatum: This marriage should not happen forever!



He asserted that as long as he is still alive with her wedding plans that morality should not happen. My brain vessels almost burst at the time holding shattered inner pain beyond measure.



Attendees of all, do you know why? Why would I apply such a sadistic father? Why, because my future wife's father was a barber barber .... yes ... barber again! I say with pride. Because, although only a barber, he's a real man. A hard worker who had fulfilled their obligations to her family well. He has carved an achievement that not many made the nobles "Pasha". Through his hands he reveal the three doctors, an engineer and a lieutenant, although he did not savor the bench education.



Mother, brother and all siding with the father's family. I stand alone, no one defended. At the same time my sister brought her boyfriend, who had been pregnant two months into the home. Request sanctioned. Approve and direct the mother's father set up the wedding costs $ 500 thousand Ponds. I protested to them, why is there such unfair treatment? Why would I want to make love on the straight path is not sanctioned, while my younger brother who obviously has committed adultery, bergonta-impregnated dressing girlfriend and eventually his girlfriend who knows how many outside of the marriage contract even sanctioned and given the huge facility?

With runaway father answered. "Because you choose the life partner of the strata is wrong and will lower the dignity of the family, while you're pregnant sister's boyfriend's child minister, he would raise a large family of Al Ganzouri dignity." Attendees all the more poignant wound in my heart. If he's not my father, I would have an all-out verbal abuse. Maybe that's a sign of Judgement is near, who want clean living with married deterred, but what is clear instead facilitated adultery.



With the mention of Allah, I have decided to defend my love and life. I want to prove to anyone, that way, and couples make love my choice is correct. I do not want anything other than getting married and living well in accordance with the guidance of the sacred which I believe is the truth. That's it.



I take this leg you stepped into the house and I met his father. With full honesty I explain what really happened, hoping he wisely accepted approve my plan. However, he haula Wala quwwata billah illallah, I was startled by his attitude after learning of my family rejection. Beliaupun flatly refused to marry off his daughter with me. Apparently, he answered with a louder reaction, he did not regard it as a child if still married to my desperation.



We were both confused, our souls in torment. My family refused this marriage occurred for reasons of social status, while the family for reasons he refused to defend the honor.



My days and he lives in tears, arcades and asked why those people do not have the coolness of love? After much thought, I finally decided to end this suffering. One day I invited a girl that I loved it to the office ma'dzun syari (the registrar of marriage) along with the three people my best friend. We gave our identity and we ask ma'dzun to perform our marriage ceremony madhhabs priests follow the Hanafi Shariah. When Ma'dzun guide me, "Mamduh, say this sentence: I thank you in accordance with sunatullah marriage wa mahr rasulih and with which we agree upon as well by wearing madhhabs Imam Abu Hanifa."



Immediately bercucuranlah my tears, tears and tears of her three best friends know the exact details of my journey to the marriage contract. We got out of the office officially became husband and wife are legitimate in the eyes of Allah and mankind. I whispered to my wife's patience to prepare more, because the taste of this pain is not over. As I suspected, the suffering was not over, our marriage ceremony to make the family angry. Tempest of life waiting in front of the eye. So kiss our marriage, I was expelled by the father of the house. Cars and confiscated all the existing facilities. I left home without carrying anything. Unless bag containing several pieces of tattered clothes and money as much as four pounds! That's money I have remaining after paying the fare ma'dzun marriage ceremony in the office.



So it is with my wife, she was expelled by his family. More tragically he was just carrying a small bag containing clothes and money as much as two pounds, no further! In total we only hold the money six dollars a pound or two!



Ah, what can we do with the money six pounds? We both met on the street like a bum. It was the month in February, right at the peak of winter. We were shivering, anxiety, fear, sadness and misery mixed into one. Only when our eyes lock eyes filled with tears of love and soul together in the embrace of love, sense of empowerment and life coursed through our soul. "Habibi, forgive Kanda brings you to the brink of misery like this. Forgive Kanda!" "No ... nothing wrong Kanda, Kanda travel right steps. We had to think correctly and make love properly. It is they who can not appreciate truth. They are still covered with small children how to think. One time they will know that we are right and their actions wrong. I do not regret the step that we take ini.Percayalah, Inshallah, I will faithfully support Kanda, during Kanda Dinda remained faithful to bring to the straight path. We'll prove to them that we could live with faith and love we are victorious. Once when we reach out triumph that we extend our hands and we give our smile at them and they will cry their eyes haru.Air would like a swift flowing tears of our suffering today, "my wife replied with a sob in pelukan.Kata- he said to give suggestions to me extraordinary. Thus was born a sense of optimism for life. Fear and anxiety were gone instantly. Moreover, remember that a month or so we will be appointed a doctor. And as the best graduates of each of us will receive awards and money as much as 40 pounds.



Tonight the more protracted and increasingly biting cold. We were both sitting in a doorway as a beggar who does not have anything. In the stillness, our brain continues to turn to find a way out. There's no way we were sleeping in a doorway. The way out was to come also. With money left over six pounds, we are still able to borrow a shop for 24 hours.



I managed to contact a friend who lend as much as 50 pounds. He even drove us to find a cheap hostel perfunctory. When we take shelter in a simple room, we immediately made aware again that we are in the valley of the hard life, we must mengarunginya both and there is no help except love, compassion and hard struggle for us both and the grace of God Almighty.



We live in a hostel for a few days, until our friend managed to find a modest rented house in the slums of Syubra Khaimah. For the aristocrat, rented house, we might be viewed properly is to cage their pets. Even their house pets may be more good stuff from our rented house.





But for us is a gift from heaven. Whatever the form of the house, if a homeless shelter without a home find it as a great gift from heaven. Coincidence that a home was in need of money, so he accepts the contract without a deposit and rent money other administration. So it cost no more than 25 pounds for three months.



How happy we were at that time, we immediately moved there. Then we go to buy home
furnishings for the first time. Not more than a coarse cotton mattress, two pillows, one small wooden table, two chairs and a gas stove is quite simple, fan and two cups of soil, that's all ... nothing more.



In the life of unostentatious and yet it is feasible, we feel happy, because we were always together. Is there happiness in this world beyond the meeting of two men who tied up the strength of love? Is to live a happy life with passion. And why should those people in the world longed for Heaven in the afterlife? Because in heaven God's promises of love. Ah, I remembered the words of Ibn al-Qayyim, that the pleasure of intercourse love that is felt a husband and wife in the world is to give you a delicious drop of which is provided by God in heaven. If husband and wife lovemaking was delicious, then heaven is much more enjoyable than all of that. Delicious love in heaven can not be imagined. The most delicious is the love given by God to the inhabitants of heaven, when God shows his face. And not all the Host entitled to enjoy the beautiful face of Allah. For delicious love it, Allah sends down instructions ie the Qur'an and Sunnah. Consistent follow the instructions God who is entitled to take all the love in heaven. Through appreciation of this love, we found the streets straight draw closer to Him.



My wife was so diligent in reading the Qur'an, then wear the hijab, and not end the evening prayer. At the beginning of the night he was transformed into a soluble Adawiyah Rabi'a Munajat ocean to the Lord. At noon he is a dedicated physician and compassion. She was a woman of character and strong personality, he's determined to live together without the help of anyone, except God Almighty. He's also a clever woman who finances. Rents as much as 25 poud is left after paying the rent enough to eat and transportation during sebulan.Tetanggga simple-our neighbors loved us, and we love them. They felt sorry to see misery and suffering of our lives, when we both are doctors. Up-until someone said that without a deliberate, "Well, we think that physicians must be rich all, there was also a protracted suffering like Mamduh and his wife." Familiar intercourse with our neighbors a lot to reduce our sorrow. Several times we offer a neighbor's small grants like a sister. There is an offer to the wife so that left only their laundry in the washing machine because we did a busy doctor. Somebody needs to buy a doctor. There is a help to clean the house. I am very impressed with their help-help.



Neighbor's warmth as if replacement rough treatment we received from our own family. Our family was not even called at all to find and visit us. Even more painful they are not letting us live in peace.



One night, as we were fast asleep, our home was suddenly broken by the pounding and my dad four ruffians shipment. They destroy all the existing tools. Wooden tables only, they broke-broke, so did the chair. Mattress where we slept only they are torn. They threatened and cursed us with harsh words. Then they came out with a threat, "You will not live quietly, for daring to oppose Mr. Pasha."



What they mean by the Lord, "Pasha" was my father who was then rose to the rank of generals. The fourth bastard go. We both hugged and cried together share the agony and build strength. Then we re-order houses destroyed. We gather again the scattered cotton, our input again into the mattress and we were sewing mattresses torn was not erratic. We order more books to fall apart. Broken chairs and tables we were trying to fix. Then we fell asleep exhausted by hand bergenggaman tightly, as tightly grasp this is the source of security and happiness that this life alleviate intimidation.



True, my hunch says father will not let us live peacefully. I had heard from a friend that his father had nefarious designs scenarios for my wife on charges of imprisoning prostitutes. Everybody knows strong military intelligence in this country. They are entitled to execute any and laws on their feet. I can only total surrender to God to hear about it.



And Masha'Allah! My father has designed the scenario was not discouraged and that evil, except when my best friend managed to outwit him by vowing to be able to persuade my wife divorcing me. And ask the father to be patient and do not run the script, because if it happened to be my rebellion would be able to do harder and more desperate.



My task is to visit my dad every weekend as he asked his patient, until succeeded in convincing me to divorce my wife. Here's my scenario was to continue to buy time, until her father fell upset and forget the cruel plan. While I can prepare everything more mature.



A few months after that came when the draft. During one full year of my military duty. This is the time that I feared, there was no income at all unless I have received six pounds every month. And I must part with my soul mate who is very loved. Barely over a year I could not sleep for thinking about the safety of his wife tercinta.Tetapi God does not forget us, He who maintain the safety of His servants who believe. My wife was alive she survived even get internship opportunities at a health clinic near our house. So for one year, she lives with the grace of Allah Almighty abound.



Completed military service, I immediately shed all sense of longing for liver lovers. When it is spring. Season of love and beauty. That night my face to his beautiful eyes, her pure white. He smiled sweetly. I gulp all her love. I remembered the poem of a Palestinian poet who dreams of a happy life with faithful companion & loose from the shackles of misery: Staring at the skyline I told him there ... above the sea of sand And we will lay down to sleep soundly until the dawn came not because the absence of words but because of fatigue butterfly'll sleep on our lips Tomorrow, oh my love ... We'll wake up tomorrow morning with the sailors and their sailboat, and will fly with the wind Like the birds Well ... I even dreamed of such. He wanted a break from the agony and anguish. I made it to his beloved wife dream. But he did have a different view. She's even hard to clean incoming joint Masters program! "Crazy ... crazy idea!" I thought at that time. How not ... this is the best time to leave Egypt and get a job as a doctor in the Gulf countries, in order to avoid a family feud that is not callous. But my wife still determined to achieve a degree of Master and logic which I refused to answer:



"We are both the most outstanding in our class and got an offer from the Faculty so that it will obtain waivers of charge, we have to wait a minute withstand pain to achieve immortality in the happiness of love. We had already suffered wet, why not us rengguk marrow of this suffering. We polishing your academic achievements, and we realize our dreams. " He was so strict. Beautiful eyes refract no doubts or fears at all. Faced with a steely determination to my wife, my heart melt. Fill his invitation with a feeling of awe will be patience and strength of his soul.



Be we both signed the Master Program. And begin our new life into more suffering. Inclusion of a mediocre, while the needs of extraordinary lectures, funding for the practice, books, etc.. Almost like the Sufis we live, eat only bread and water. The days we spent more severe than the early days of our marriage. At night we spent together on an empty stomach, our faithful friend is a water tap.



Still recorded on my memory as to how we learn together in one night until whipped indescribable hunger that we treat with water. What happened instead we got sick. Forced us money to buy books to take to pengganjal stomach. At noon, do not ask ... we were forced to fast. From the compulsion that, terjelmalah habits and sincerity.



Melaratnya Nevertheless, we feel happy. We never had the slightest regret or complain. I never saw my wife complaining, crying and sad or angry for some reason. Even if she cries, it's not because regretting his fate, but he was even more sorry for me. He felt sorry to see my state, which originally had been living in luxury, suddenly had to live like a bum miserable. On the contrary, so I feel sorry for the circumstances, he who originally lived comfortably with his family, must live to suffer in a shabby rented house and eat a la kadarnya.Timbal behind these feelings Mawaddah Apparently create an atmosphere which is immensely powerful in us. I can no longer describe the sense of affection, respect, and love him deeply.



Every time I lift the head from the book, which appear in front of me is my wife's face more serious study. I looked at his face deeply. I'm amazed at my angel. Feel cared for, he would lift his eyes from the book and stared me full in love with a typical smile. If it is thus all the forgotten suffering. It seemed we were the happiest people in this world. "God is with those who are patient, dear ..." he whispered tenderly, smiling.



Then we continue to learn in the spirit of burning. Merciful God, our efforts are not wasted. We both earned a Masters with the fastest time in Egypt. Only two years alone! However, we have not come out of suffering. After finishing her Masters degree we are still alive too hard, sleeping on thin mattresses and no term good meal in our lives. Until finally grace of God came. After great effort, we managed to sign a labor contract in a hospital in Kuwait. And for the first time, after five years covered in anguish and grief, we know the worth of life and peace. We live in a luxury home, to feel back to sleep on soft mattresses and return knowing delicious cuisine.



Two years after that, we can purchase a two storey villa in Heliopolis, Cairo. Actually, I was longing to return to Egypt after having decent housing. But my wife was 'crazy'. He was re-issued a crazy idea, namely the idea to continue the doctoral program specialist in London, also with a logic that is difficult I rejected: "We are physicians who excel. The days of agony we've been through, and we now have enough money to take a Doctorate in London. After years of living in slum alley, there's no harm in us all achieve the highest academic levels while feeling of living in developed countries. Moreover, the hospital has provided additional funds. "



I kissed my wife's forehead, and mention the name ... we went to London. In short, by the grace of God, we both managed to steal his doctoral degree from London. My nerves and my wife's specialist heart specialist. After obtaining his doctorate specialist, we signed new employment contracts in Kuwait, with an enormous salary. Even I was appointed as director of the hospital, and my wife as his deputy! We also teach in Universitas.Kami also blessed with a daughter who was beautiful and intelligent. I named him with a beloved wife, soul mate who accompanied me in joy and sorrow, the endless inspires virtue.



Five years after that, we moved back to Cairo after a previous pilgrimage to Mecca in the Land of Haram. We came back like a king and queen who came back from trip around the world. We now live happy, full of love and peace after more than nine years of suffering, privation and misery. Commemorating the past, it bertambahlah our gratitude to God Almighty and bertambahlan our love.



This true story of my life to say as advice. If the audience wanted to know all saleha wife whom I love and sincerely pour out his love, without ever ebb since the first meeting until now, in times of joy and sorrow, then look at the blue covered women who bow in the front row of the mother, right to the left of the artist Huda veiled sultan. My beloved wife is He who taught that pain can perpetuate love. He is Prof. Dr. Abdul Aziz Shiddiqa bint ... "



Thunderous applause accompanied the video camera movements highlight the figure of half-aged woman who looked elegant in a blue headscarf. The woman running the middle of wiping her tears. The camera also recorded a sultan who Huda eyes filled with tears, the tears melt haru the bride and groom, and the whole audience who appreciate this story carefully....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar